Pengetahuantentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur'an. [2] B. Fungsi Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Qur'an Adapun kegunaan yang diperoleh dalam mengetahui Asbabun Nuzul dalam kaitannya dengan memahami makna daripada ayat-ayat suci Al-Qur'an antara lain adalah sebagai BerbilangnyaAsbab An-Nuzul untuk satu ayat (Ta'addad As-Sabab wa Nazil Al-wahid) Tidak setiap ayat memiliki riwayat asbabun nuzul dalam versi. Adakalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbabun nuzul. Tentu saja hal itu tidak akan menjadi persoalan bila riwayat itu tidak mengandung kontradiksi. 2 Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk satu Asbab An-Nuzul a. Berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat (Ta'addad As-Sabab wa Nazil Al-wahid) Tidak setiap ayat memiliki riwayat asbabun nuzul dalam versi. Adakalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbabun nuzul. Asbabunnuzul dapat memudahkan memahami apakah suatu ayat berlaku umum ataupun secara khusus dan dalam kondisi bagaimana ayat tersebut diterapkan. Pengkategorian Asbabun Nuzul Menurut macam-macamnya, asbabun nuzul dapat dikategorikan: Berbilangnya Asbabun nuzul untuk satu ayat ( Ta'ddud A- Sabab Wa Nazil Al-Wahid) -Tidak Mempermaslahkannya Artinya alif lam ra, ini adalah ayat-ayat kitab (Al-Qur'an) yang jelas. Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti. Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.[3] D. MANFAAT A Pengertian Asbabun Nuzul. Asbabun Nuzul merupakan bentuk Idhafah dari kata "asbab" dan "nuzul. Secara etimologi Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu, meskipun segala fenomena yang melatar belakangi terjadinya sesuatu bisa disebut Asbabun Nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan Asbabun Nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang Dikutipdari jurnal yang berjudul Asbabun Nuzul: Kajian Historis Turunnya ayat Alquran oleh Syafril, ayat-ayat alquran digolongkan ke dalam dua bagian. Pertama, ayat-ayat yang turun sebagai penjelasan suatu peristiwa. Kedua, ayat-ayat yang turun lebih awal tanpa adanya peristiwa yang mendahului turunnya wahyu. AsbabunNuzul (Sebab Turunnya Ayat-Ayat Al Qur'an) : Surat Al Hajj Ayat 27, 37 dan 39 Shohabiyah + Ikuti Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Nabi saw, hijrah dari Mekah, berkatalah Abu Bakr: "Mereka telah mengusir Nabi mereka. Mereka pasti akan dibinasakan." Maka turunlah ayat ini (QS: 22 al-Hajj: 39) yang memberi kelonggaran 7DhtA. Ilustrasi surat Al-Byyinah ayat 1 - 8, sumber foto Al-Bayyinah 1 – 8 merupakan surat ke-98 dalam Alquran. Terdiri dari 8 ayat, surat ini diturunkan di Kota Madinah sehingga termasuk di dalam golongan surat madaniyah. Dikutip dari buku Tadabur Al-Quran Menyelami Makna Al-Quran dari Al-Fatihah Sampai An-Nas, Syaikh Adil Muhammad Khalil 413, ada beberapa sebab mengapa surat ini diberi nama Al-Bayyinah. Yang pertama, karena petunjuk-petunjuk risalah Islam sangatlah jelas bagi setiap orang berpikir, berakal, dan menginginkan kebenaran. Selain itu dinamakan Al-Bayyinah dikarenakan Allah SWT membuka surat ini dengan kalimat Lam yakunilladzina Nuzul Al-Bayyinah 1 – 8Surat Al-Bayyinah diturunkan berhubungan dengan adanya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik yang tidak ingin meninggalkan keyakinan mereka, sehingga turunlah surat ini untuk membuktikan bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar. Agama Islam memiliki pedoman hidup bagi umatnya yang dituangkan dalam Al-Quran, yang mengatur semua aspek ahli kitab mengetahui bahwa kelak akan muncul seorang nabi akhir zaman. Orang-orang musyrik Mekah pun mengetahui hal tersebut. Hak tersebut semestinya menjadikan mereka percaya saat itu benar-benar terjadi yaitu diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir oleh Allah SWT. Tetapi mereka tidak memercayai hal tersebut, justru saling berselisih paham .Makna yang Terkandung dalam Al-Bayyinah 1 – 8Dalam surat Al-Bayyinah ayat 1 – 8 terdapat pernyataan ahli kitab dan orang-orang musyrik bahwa mereka akan tetap dalam agama mereka masing-masing sampai datang nabi yang telah dijanjikan oleh foto apa yang terjadi setelah Nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi terakhir dan juga rasul terakhir? Mereka terpecah-pecah ada yang beriman ada juga yang justru mengingkari janji dan tidak beriman kepada Allah SWT. Padahal sifat dari Nabi Muhammad sudah sesuai dengan yang dijanjikan di dalam asbabun nuzul dan makna yang tekandung di dalam surat Al-Bayyinah, semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. WWN Benarkah Setiap Ayat Al-Quran Memiliki Asbabun Nuzul? – Mungkin ada di antara umat Islam yang belum tahu apa itu Asbabun Nuzul. Di dalam ilmu Al-Quran, Asbabun Nuzul adalah peristiwa ataupun kejadian yang menjadi sebab turunnya suatu ayat Al-Quran. Jadi Al-Quran tidak diturunkan sekali turun langsung ayat langsung, akan tetapi berangsur-angsur selama lebih dari 20 tahun. Kenapa hal ini dilakukan Allah? Berkatalah orang-orang yang kafir "Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil teratur dan benar. Al-Furqaan 32 Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman, Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. Al-Israa’ 106 Hikmahnya adalah agar ayat-ayat yang diturunkan lebih meresap ke dalam hati manusia. Begitu pula Asbabun Nuzul. Dengan adanya Asbabun Nuzul ini, orang-orang yang membaca Al-Quran akan lebih meresapi dan menghayati ayat yang dibaca. Timbul pertanyaan, apakah setiap ayat di Al-Quran memiliki asbabun nuzul? Jawabannya adalah tidak. Ada ayat Al-Quran yang turun karena suatu peristiwa dan ada pula ayat Al-Quran yang diturunkan tanpa adanya rangkaian peristiwa alias turun begitu saja. Ayat-ayat yang tidak memiliki Asbabun Nuzul biasanya kisah-kisah seperti kisah para nabi. Tetapi tidak semua kisah para nabi di Al-Quran tidak memiliki Asbabun Nuzul dan tidak semua Asbabun Nuzul itu kisah para nabi. Adapun ayat yang memiliki Asbabun Nuzul biasanya untuk menerangkan hukum, syariat dan lain sebagainya. Salah satu contoh ayat di Al-Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul Misalnya adalah surah Al-An’aam. Dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma yang diriwayatkan secara marfu’, Turun kepadaku surat Al-An’am, satu surat sekaligus. Diiringi oleh malaikat. Mereka menyuarakan tasbih dan tahmid. HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath no. 3316 dan Abu Nua’im dalam al-Hilyah, 3/44 dan di sana ada perawi bernama Yusuf bin Athiyah as-Shaffar dan dia dhaif. Di dalam riwayat lain, yaitu Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, dia berkata, Ketika turun surat Al-An’am, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertasbih. Kemudian beliau mengatakan, “Sungguh, ada malaikat yang jumlahnya menutupi ufuq yang mengiringi turunnya surat ini.” HR. Hakim 2/314, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 2431 Jadi tidak semua ayat Al-Quran memiliki Asbabun Nuzul. Inilah yang kebanyakan. Adapun beberapa ayat yang memiliki Asbabun Nuzul seperti Surah Thaahaa ayat 105 Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah "Tuhanku akan menghancurkannya di hari kiamat sehancur-hancurnya, Thaahaa 105 Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa kaum Quraisy bertanya “Apakah yang akan dilakukan Rabb-mu pada hari kiamat terhadap gunung-gunung?” ayat ini Thaahaa 105 turun sebagai penjelasan bahwa gunung-gunung itu pada hari kiamat akan dihancurkan seremuk-remuknya. Contoh lainnya adalah Surah Al-Hijr ayat 49-50 Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih. Al-Hijr 49-50 Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegur para shahabatnya yang sedang tertawa saat beliau lewat di tempat itu, dengan berkata “Apa gerangan yang menyebabkan kalian tertawa? Padahal surga dan neraka itu sudah diperingatkan kepada kalian.” Maka turunlah ayat ini al-Hijr 49-50 sebagai teguran kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam supaya membiarkan mereka tertawa, karena Allah itu ghafuurur rahiim Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, tetapi juga mengingatkan mereka bahwa siksa Allah sangat pedih. Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari salah seorang shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat para shahabat dari pintu Bani Syaibah, sambil bersabda “Aku tidak ingin melihat kalian tertawa.” Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan mereka. Tidak lama kemudian beliau kembali lagi sambil mundur dan bersabda “Ketika aku tiba di Hijr Isma’il, Jibril datang menegurku “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu Mengapa engkau memutuskan harapan hamba-hamba-Ku?” sebagaimana firman-Nya dalam al-Hijr 49-50. Itulah pembahasan singkat kita mengenai Asbabun Nuzul. Semoga menambah khazanah ilmu pengetahuan agama kita. Baca Juga Sunnah Tidur Menghadap Kiblat? Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 12 Muharram 1439 Hijriyah/2 Oktober 2017 Masehi. Asbābun Nuzūl bahasa Arab اسباب النزول, sebab-sebab turunnya suatu ayat adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur'an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah di balik kisah diturunkannya suatu ayat.[1] Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kukuh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[2] Al-Quran bukanlah merupakan sebuah "buku" dalam pengertian umum, karena ia tidak pernah diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sejauh situasi-situasi menuntutnya. Al-Quran pun sangat menyadari kenyataan ini sebagai suatu yang akan menimbulkan keusilan di kalangan pembantahnya QS. Al-Furqan [251 32. Seperti yang diyakini sampai sekarang, pewahyuan Al-Quran secara total dalam sekali waktu secara sekaligus adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena pada kenyataannya AlQuran diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang timbul.[3] Sebagian tugas untuk memahami pesan dari Al-Quran sebagai suatu kesatuan adalah mempelajarinya dalam konteks latar belakangnya. Latar belakang yang paling dekat adaiah kegiatan dan perjuangan Nabi yang berlangsung selama dua puluh tiga tahun di bawah bimbingan terhadap perjuangan Nabi Yang secara keseluruhan sudah terpapar dalam sunnahnya, kita perlu memahaminya dalam konteks perspektif Arab pada masa awal penyebaran Islam, karena aktivitas Nabi berada di dalamnya. Oleh karena itu, adat-istiadat, lembaga-lembaga serta pandangan hidup bangsa Arab pada umumnya menjadi esensial diketahui dalam rangka memahami konteks aktivitas Nabi. Secara khusus, situasi Makkah pra Islam perlu dipahami terlebih dahulu secara mendalam. Tanpa memahami masalah ini, pesan Al-Quran sebagai suatu kebutuhan tidak akan dapat dipahami. Orang akan salah menangkap pesan-pesan Al-Quran secara utuh, jika hanya memahami bahasanya saja, tanpa memahami konteks historisnya. Agar dipahami secara utuh, Al-Quran harus dicerna dalam konteks perjuangan Nabi dan latar belakang perjuangannya. Oleh sebab itu, hampir semua literatur yang berkenaan dengan Al-Quran menekankan pentingnya asbab annuzul alasan pewahyuan.[3]